news

Music concert, dance, theater “Histoire du Soldat”

Music concert, dance, theater “Histoire du Soldat”

(Mau Ketemu Iblis…?)

Time
05 August at 8:00pm – 06 August at 10:00pm

Location
Gedung Sositet Taman Budaya Yogyakarta

Jl. Sriwedani 1
Yogyakarta

 

“Histoire du Soldat” (Mau Ketemu Iblis…?) adalah pertunjukan musik yang dipadukan dengan teater dan tari, yang akan digelar di Yogyakarta, Solo, Semarang dan Jakarta pada bulan Agustus 2011 ini. Proyek ini diinisiasi oleh Raymond Vievermanns, seorang musisi dari Belanda.
Raymond tertarik pada karya Igor Stravinsky “Histoire du Soldat”, sebuah karya yang dibuat pada era perang dunia I, bercerita tentang ketidakberdayaan manusia atas godaan setan. Karya tersebut sudah diadaptasi di berbagai negara, namun belum pernah diadaptasi di Indonesia. Hal ini kemudian mendorong Raymond untuk mengajak Gerard Mosterd (koreografer Belanda), Eko Suprianto (penari dan koreografer dari Solo), Jamaluddin Latif (aktor teater dari Yogyakarta), Martinus Miroto (penari dan koreografer dari Yogyakarta), dan Sri Qadariatin (aktris teater dari Yogyakarta), untuk mewujudkan pertunjukan “Histoire du Soldat” yang diiringi musik live oleh Dutch Chamber Music Company. Setelah proses latihan yang dilakukan sepanjang bulan Juli 2011 di Yogyakarta, pertunjukan yang berdurasi sekitar 60 menit menghasilkan sebuah karya kolaborasi yang sangat menarik, yaitu kolaborasi musik dengan pengaruh dari barat, dipadukan dengan tari dengan pengaruh dari timur.
Selain itu Raymond juga menggandeng Slamet Gundono untuk membawakan “Si Bulbul” (The Nightingale), sebuah dongeng karya Hans Christian Andersen, diiringi musik karya Theo Loevendie, komponis kontemporer dari Belanda. Musik iringan ini akan dimainkan pula secara live oleh Dutch Chamber Music Company.
Dalam rangkaian pertunjukan ini, Dutch Chamber Music Company akan memainkan pula musik kontemporer karya komponis-komponis Indonesia, yaitu Slamet A. Sjukur, Gatot D. Sulistiyanto (dinyanyikan oleh Ika Sri Wahyuningsih, seorang vokalis opera dari Yogyakarta), dan Michael Asmara.